Media Informasi Masyarakat Karo Online
21 Nov
Jangan katakan dirimu Karo
Kalau kau tidak bisa berbahasa Karo
Buka saja topeng kekaroanmu
Karena aku benci Karo Dibalik Topeng
(Joey Bangun, KARO DIBALIK TOPENG)
Berapa diantara kita yang membaca tulisan ini yang mengerti, atau bisa/fasih/pasif menuturkan bahasa Karo? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab kepada saya. Tapi cukup dijawab di hati saudara. Coba sekali lagi renungkan penggalan monolog yang saya tuliskan di atas dan coba raba-raba dimanakah kedudukan anda sekarang. Selagi anda masih meraba-raba, saya sudah menyimpulkan “kebudayaan Karo diambang krisis identitas”.
Lanjut
22 May
Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
Lanjut
12 May
Apresiasi Nilai Kepahlawanan Dalam Masyarakat Karo
Dalam pentas nasional dapat dikatakan masih sedikit sekali tokoh Karo yang muncul kepermukaan, bahkan belum ada pejuang dari masyarakat Karo yang berstatus sebagai pahlawan nasional. Padahal begitu banyak pejuang dan pengorbanan masyarakat Karo dalam berjuang mengusir penjajah. Yang menjadi masalah adalah sangat sedikit pemerhati dan pemikir Karo yang berusaha menggali dan mengusulkan nama pejuang menjadi pahlawan nasional. Mungkin hanya almarhum Prof. DR Masri Singarimbun satu-satunya yang telah berusaha secara ilmiah memberi perhatian dalam hal ini, yakni dengan mengankat nama Kiras Bangun atau Garamata dalam suatu seminar tahun 1993 di Kampus USU Medan. Kini Kiras Bangun telah resmi menjadi pahlawan nasional oleh Presiden SBY beberapa waktu lalu (MVW).
Lanjut
12 May
Kepahlawanan ataupun ketokohan dalam masyarakat Karo sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru. Cerita rakyat Pawang Ternalem misalnya salah satu contoh karya seni rakyat Karo yang memiliki nilai-nilai keteladanan . Cerita itu tentu dapat memberi inspirasi rasa kepahlawanan bagi yang menghayatinya.
Dalam sejarah sebelum kolonial Belanda kita mengenal Guru Patimpus tokoh pendiri kota Medan yang bermarga Sembiring Pelawi yang menikah dengan beru Tarigan. (Sejarah Medan, Sejarah Multi Kebudayaan, Kompas 02/07/01). Hidup sekitar akhir abad XV hingga pertengahan abad XVI. Ia membuka kampung Medan di antara sungai Babura dan sungai Deli. Dikenal sebagai seorang tabib (guru dalam bahasa Karo = dukun) yang terkenal ketika itu. Sehingga banyak yang berobat kepadanya dan kampung Medan makin ramai. Hingga kini nama Guru Patimpus diabadikan menjadi nama salah satu jalan utama di kota Medan. Selain Guru Patimpus, ayahnya sendiri Tuan Si Raja Hita adalah peminpin Karo ketika itu yang tinggal di kampung Pekan (Pakan). Di Sunggal pernah dipinpin oleh Datuk Itam Surbakti yang menjadi raja Sunggal, tokoh yang hidup sekitar abat XVI.
Lanjut
12 May
Berbicara mengenai masyarakat Karo, tentunya bukan saja mengupas komunitas orang Karo di kabupaten Karo. Darwan Prinst, seorang tokoh masyarakat Karo memperkirakan ada sekitar tiga juta jiwa jumlah orang Karo di Indonesia (Kompas , 18/10/2001) yang tersebar di berbagai kota dan kabupaten di Sumatera Utara, seperti: Karo, Deli Serdang, Medan, Binjai, Langkat, hingga ke Dairi, Aceh Tengara, Simalungun serta di pulau Jawa. Sementara jumlah masyarakat Karo di kabupaten Karo sendiri kurang dari 300.000 jiwa. Artinya mayoritas masyarakat Karo telah berdomisili di luar Tanah Karo.
Lanjut