Dinamika Budaya Karo (3)

Modernisasi dan Pengaruhnya di antara Orang Karo

Kita sudah melihat sendiri pada butir 3, bagaimana pemikir orientalis (Simon Rae) mengapresiasikan kehadiran Barat dan kekristenan dari sudut pandang modern, sehingga kita diajak melihat satu sisi saja dampaknya, yaitu keterlepasan orang Karo dari keterbelakangannya (dalam bidang ilmu pengetahuan) dan kepercayaannya (dalam bidang agama). Di sana kurang disinggung secara jujur, bagaimana para kolonial, termasuk para zendeling sebenarnya menghadirkan dampak negatif kehadiran mereka.

Kalau kita melihat sejarah, tentu saja kita dapat memahami bahwa modernitas diperkenalkan kepada orang Karo oleh kehadiran para kolonial, dan kehadiran para zendeling. Modernisme adalah paham yang berpendapat bahwa peradaban manusia bisa berkembang bila modernitas dan perkembangan IPTEK dipesatkan dan dimajukan, di mana rasionalisme diterapkan dalam teknologi dan industrialisasi, untuk mencapai kemajuan masyarakat.

Namun di balik tujuan dan cita-cita yang indah itu, siapa sangka, ternyata ada sisi-sisi negatif yang diakibatkannya. Akibat negatif itu antara lain disebutkan oleh Mudji Sutrisno sebagai berikut:

    1. Modernisme memiliki kecenderungan untuk “masifikasi”, penyeragaman manusia dalam kerangka kerja teknis, sistem kerja industri yang menempatkan semua orang sebagai mesin atau skrup dari sebuah sistem rasional.
    1. Modernisme bersifat sekularisme yang berarti tidak diakuinya lagi adanya ruang nafas buat yang ilahi atau dimensi religius dalam hidup ini.
    1. Modernisme memiliki orientasi nilai-nilai yang menomorsatukan instant solution, resep jawaban yang tepat, cepat, langsung dalam tempo sesingkat-singkatnya. Maka yang muncul adalah sistem jawaban paket terhadap persoalan-persoalan hidup. Padahal hidup itu sangat dinamis (proses jatuh bangun, seperti pertumbuhan seseorang dari bayi sampai dewasa).
    1. Gejala atomisme dari modernisme juga turut merupakan sisi negatifnya, entah terpencarnya tempat kerja suami dan istri dengan rumah, entah berkeping-kepingnya keamanan ikatan keluarga besar menjadi keluarga-keluarga kecil, entah berkepingnya solidaritas kampung yang dicabut akarnya lantaran menjadi pekerja-pekerja di kota atau pinggiran kota.

Teknologisme yang secara reduksionis memutlakan rasionalitas teknis atau sarana sebagai cara kerja hingga melupakan rasionalitas kehidupan sebagai rasionalitas tujuan. Benturan tajam yang terjadi adalah gap (celah) eksistensialisme, di mana kawanan mayoritas masyarakat masih bereksistensi dengan logika sarana demi mencapai tujuan (means to ends logic), padahal elite kekuasaan (gabungan teknokrat, teknolog, militer, penguasa dan birokrat) sudah melaksanakan tanpa kompromi sebuah eksistensi totally centralized engineered society yang totaliter.

A. Ginting Suka menguraikan dampak negatif dari modernisasi di antara orang Karo sebagai berikut:

    1. Orang Karo yang dalam hidup tradisionalnya berpaham komunalistis menjadi individualisme. Masing masing orang mengerjakan pekerjaan mereka sendiri, tidak tergantung kepada siapa pun.
    1. Karena hidup manusia cenderung berorientasi kepada nilai-nilai material, maka banyak terjadi tindakan melanggar ketentuan etis, seperti perjudian, jula-jula (arisan), usaha penggandaan uang, rumah maksiat dan kriminalitas.

    Cara kerja berpola pada other directed, atau diarahkan dari luar seperti orang bekerja menurut kebutuhan pasar, pekerjaan industri oleh direksi perusahaan yang memperlakukan pekerja-pekerjanya sebagai rasional instrumen dalam proses berproduksi.

    Djanggun B.D. Sitepu (pakar budaya) menyebutkan ciri-ciri masyarakat modern dan dampaknya bagi orang Karo sebagai berikut:

  • Lebih menggunakan akal pikiran/rasional
  • Yang bersifat dogmatis kurang mencapat tempat
  • Waktu dan ilmu pengetahuan sangat dihargai
  • Kebendaan menjadi ukuran nilai dan ukuran keberhasilan/materialistis
  • Dampaknya sebagai berikut:

  • Kegotong-royongan, kebersamaan, tradisi lama akan goyah, sementara nilai-nilai baru belum mengkristal.
  • Kebutuhan material semakin meningkat, sementara kemampuan untuk mencapainya masih terbatas
  • Kedua hal di atas sangat mempengaruhi tata pergaulan termasuk sikap, tindakan antar individu dan antar kelompok di dalam masyarakat.

    Dari pendapat para tokoh di atas, kita bisa merasakan bagaimana modernisasi telah banyak melunturkan nilai-nilai budaya yang ada pada masyarakat Karo, sekaligus ada upaya menanamkan nilai-nilai baru. Sayangnya, orang Karo malah terjebak dalam “kerancuan” untuk mengambil sikap terhadap perubahan itu. Inilah penyebab utama, identitas orang Karo menjadi kabur. Akibat yang paling rentan adalah terkikisnya nilai-nilai kekerabatan. Akankah sistem kekerabatan dalam sangkep nggeluh (kelengkapan hidup) yang mencirikan orang Karo akan hilang dalam masa pascakolonial ini?

    Gejala-gejala memudarnya pemahaman orang Karo atas identitasnya dapat juga dirasakan dari bagaimana hasil karya sastra Karo yang mandek setelah tahun 1990-an. Kemudian berkurangnya bahasa Karo dipakai di antara kaum muda khususnya. Hal ini begitu disadari, misalnya dalam sebuah website seorang pemuda Karo menulis demikian: Kita sering lupa dan tidak melihat seberapa penting bahasa Karo dilestarikan, padahal sebagai “kalak Karo” (orang Karo) yang diembel-embeli dengan Marga/Beru sebagai identitas, kita sering melupakan kelangsungan salah satu unsur penyusun kebudayaan kita sendiri yaitu “Cakap Karo” (bahasa Karo). Sebagai orang Karo kita wajib mentransfer ilmu yang kita bawa dari kuta kemulihen (kampung halaman) untuk sahabat-sahabat kita yang lahir di perantauan. Jangan sebaliknya kita malah terbawa arus bahasa setempat, sehingga kita melupakan bahasa yang kita bawa dari Kuta. Dalam pergaulan sesama kalak Karo kita sering melupakan identitas kita, mungkin kita malu karena sering diledekin berbahasa “planet”.

    Mungkin sudah banyak pemuda-pemudi lain yang juga memiliki pikiran yang sama, tetapi mengapa kritik terus menerus menjadi kritik, tanpa ada perkembangan. Mulai dari Masri Singarimbun, yang aktif menulis di tahun 70-an sampai 90-an sampai sekarang yang ada adalah keresahan akan lunturnya budaya Karo. Akan tetapi kalau ditinjau dari segi aksi pelestarian, masih sangat minim sekali terlihat.

    (Sumber: Website gbkpjakartapusat.org)

This entry was posted in Budaya and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply