Erkata Bedil oleh Djaga Depari

Erkata Bedil adalah sebuah lagu hasil karangan dari Djaga Depari. Lagu ini mengambil setting di jaman peperangan. Artikel ini disadur dari sini. Nama Djaga Depari tidak bisa dilewatkan begitu saja sebagai seniman besar yang memiliki keunikan tersendiri. Djaga Depari adalah seorang yang piawai menulis lirik-lirik lagu serta diksinya juga adalah kata-kata pilihan dan tidak luput menghembuskan roh romantisme dalamtembang-tembang gubahannya. Itulah yang menjadikan lagu-lagu lawas-nya masih enak didengar hingga saat ini.

Ketika menikmati alunan lagu karyanya seolah-olah si pendengarlah menjadi pelaku utama dalam peristiwa lagu itu karena kuatnya buaian syair dan liriknya membawa kita ke suatu moment dalam hayalan DD. Banyak dari karya-karyanya yang tidak asing di telinga penikmat karyanya adalah syair bernuansa romantisme. Erkata Bedil salah satunya. Kalau berbicara soal bedil asosiasi orang biasanya mengarah kepada soal perang ataupun kekerasan. Tetapi Djaga Depari malah ‘mengolahnya’ menjadi sesuatu yang romantis. Disitulah kehebatannya!


Erkata bedil i kuta Medan Turang la megogo
Ngataken kami lawes erjuang Turang ningku Turang

Bait ini melukiskan setting waktu dan tugas pemeran utama. Masa itu sang tokoh berada pada situasi perang yang tengah berkecambuk. Suatu suasana yang tidak menentu, menakutkan dan ngeri. Letusan bedil telah mengingatkan dia untuk maju ke medan tempur. Itu adalah saat-saat genting, antara hidup dan mati. Dan, kalaupun masih bisa hidup belum tentu sempurna. Bisa cacat, pengkar atau adon akibat depresi tekanan perang. Saat itu bisa jadi adalah menjadi pertemuan last minutes atau pertemuan yang terakhir kali dalam kondisi yang sempurna. Meparas, mejile denga man tatapen. Sehingga situasi itu membawa sang tokoh kedalam satu dilema, ikut kata hati dan lari dari tugas atau terus berjuang demi keuntungan jangka panjang bagi mereka berdua dan oran g lain yang membutuhkan kemerdekaan itu. Oh, tidak!

Tading ijenda si Turang besan, Turang la megogo
Rajin ku juma si muat nakan Turang ningku Turang

Bait ini menegaskan bahwa si tokoh adalah seorang patriot. Dia tidak gentar dan tidak ragu-ragu mengambil keputusan, bahkan dengan hati tegar memberikan petuah bagi kekasihnya yang akan ia tinggalkan. Ia mengisyaratkan tentang harapan tentang masa depan mereka. Kumpulkan makanan yang banyak ‘man asamta pagi nggeluh’ begitulah kira-kira isi pesannya rajin ku juma tersebut. Begitulah harapan yang ditegaskan untuk kekasihnya si la megogo, suatu lukisan kecantikan seorang gadis yang memiliki inner beauty.

Adina lawes kena ku medan perang ari o Turang
Petetap ukur ula kena melantar, Turang ningku Turang

Bait ini adalah jawaban dari sang gadis kepada kekasihnya yang akan berangkat perang. Dia tidak menahannya sekalipun itu sungguh berat, tetapi untuk kepentingan yang lebih besar ia berkorban merelakan kepergiannya. Dan hanya satu pesannya, ‘ula kena melantar’ adalah petuah yang lazim saat itu. Sebab dimasa perang tidak ada gunanya melantar. “Hidup nekat mati muda!”, kata orang jadul. Tetapkan hatimu dan janganlah engakau lengah dalam bertugas, itu pesannya.

Adina tuhu atendu ngena Turang la megogo
Tang-tangi cincin man tanda mata ari o, Turang

Cincin sebagai tanda kenangan bagi mereka yang akan berpisah jauh maupun lama. Ini melukiskan keseriusan akan komitmen mereka berdua. Sehidup semati. There is no one but you! Tetapi dalam suasana perang, cincin bisa bermakna lain. Cincin bisa jadi berfungsi guna mengingatkan sang kekasih untuk tetap waspada sekaligus saling mengingatkan untuk saling setia. Tetapi itu kalau nasib mujur, kalau keberuntungan berpihak lain, maka setidak-tidaknya cincin itu bisa sebagai tanda jasad kekasihnya andai nanti tidak bisa dikenali lagi. Bend a ini pun berfungsi sebagai simbol kehadiran sang kekasih, dikala kerinduan yang mendalam.

O, Turang la megogo
Kai nindu ari Turang?
Uga si bahan arihta?
Arih-arihta tetap ersada, ari oTurang

Bait penutup ini adalah ikrar janji. Sekalipun masalah yang mereka hadapi sedang menggunung, namun ikrar mereka tetap bersatu. Komitmen sepasang kekasih di masa perang. Ini yang dijelaskan pada bait terakhir dan sebagai penutup dalam lagu Erkata Bedil. Apakah karena lagu ini bertemakan cinta (sepasang keksaih) dan dirilis dalam bahasa daerah sehingga belum layak dianggap sebagai lagu perjuangan? Apresiasi saya, lagu ini sejajar dengan lagu perjuangan, karena lagu ini juga bisa memompakan semangat patriotisme bagi yang mengerti maknanya.

Lebih jauh. Apakah karya-karya romantis dari DD memberi pengaruh bagi seniman-seniman Karo sesudahnya? Memang lagu Karo dewasa ini banyak yang romantis, tetapi belum ada yang bisa menjadi archais seperti karyanya. Tidak heran gubahannya tetap digandrungi banyak kalangan. Kekuatannya adalah romantisme, tapi bukan picisan. Lagu ini pernah direkam ulang oleh pasangan duet Jusuf Sitepu dan Ulina Br Ginting dengan sentuhan gaya baru yang nge-pop. Dan menjadi hits di tahun 1990-an, meski syairnya dirubah. Di acara gendang kibot misalnya masih suka lagu ini terdengar dengan syair gubahan penyanyinya sendiri, seperti bait di bawah ini:

Patah tumbuh hilang berhganti, turang la megogo
Enda istilah ibas ABRI, turang ningku turang
Mata tunduh medem la banci turang la megogo
De tupung tunduh kena nge ibas nipi turang ari turang ***

(sumber: http://perkantong-samping.blogspot.com)

This entry was posted in Budaya, Tokoh and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply