Media Informasi Masyarakat Karo Online
12 May
Apresiasi Nilai Kepahlawanan Dalam Masyarakat Karo
Dalam pentas nasional dapat dikatakan masih sedikit sekali tokoh Karo yang muncul kepermukaan, bahkan belum ada pejuang dari masyarakat Karo yang berstatus sebagai pahlawan nasional. Padahal begitu banyak pejuang dan pengorbanan masyarakat Karo dalam berjuang mengusir penjajah. Yang menjadi masalah adalah sangat sedikit pemerhati dan pemikir Karo yang berusaha menggali dan mengusulkan nama pejuang menjadi pahlawan nasional. Mungkin hanya almarhum Prof. DR Masri Singarimbun satu-satunya yang telah berusaha secara ilmiah memberi perhatian dalam hal ini, yakni dengan mengankat nama Kiras Bangun atau Garamata dalam suatu seminar tahun 1993 di Kampus USU Medan. Kini Kiras Bangun telah resmi menjadi pahlawan nasional oleh Presiden SBY beberapa waktu lalu (MVW).
Lanjut
12 May
Kepahlawanan ataupun ketokohan dalam masyarakat Karo sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru. Cerita rakyat Pawang Ternalem misalnya salah satu contoh karya seni rakyat Karo yang memiliki nilai-nilai keteladanan . Cerita itu tentu dapat memberi inspirasi rasa kepahlawanan bagi yang menghayatinya.
Dalam sejarah sebelum kolonial Belanda kita mengenal Guru Patimpus tokoh pendiri kota Medan yang bermarga Sembiring Pelawi yang menikah dengan beru Tarigan. (Sejarah Medan, Sejarah Multi Kebudayaan, Kompas 02/07/01). Hidup sekitar akhir abad XV hingga pertengahan abad XVI. Ia membuka kampung Medan di antara sungai Babura dan sungai Deli. Dikenal sebagai seorang tabib (guru dalam bahasa Karo = dukun) yang terkenal ketika itu. Sehingga banyak yang berobat kepadanya dan kampung Medan makin ramai. Hingga kini nama Guru Patimpus diabadikan menjadi nama salah satu jalan utama di kota Medan. Selain Guru Patimpus, ayahnya sendiri Tuan Si Raja Hita adalah peminpin Karo ketika itu yang tinggal di kampung Pekan (Pakan). Di Sunggal pernah dipinpin oleh Datuk Itam Surbakti yang menjadi raja Sunggal, tokoh yang hidup sekitar abat XVI.
Lanjut
12 May
Berbicara mengenai masyarakat Karo, tentunya bukan saja mengupas komunitas orang Karo di kabupaten Karo. Darwan Prinst, seorang tokoh masyarakat Karo memperkirakan ada sekitar tiga juta jiwa jumlah orang Karo di Indonesia (Kompas , 18/10/2001) yang tersebar di berbagai kota dan kabupaten di Sumatera Utara, seperti: Karo, Deli Serdang, Medan, Binjai, Langkat, hingga ke Dairi, Aceh Tengara, Simalungun serta di pulau Jawa. Sementara jumlah masyarakat Karo di kabupaten Karo sendiri kurang dari 300.000 jiwa. Artinya mayoritas masyarakat Karo telah berdomisili di luar Tanah Karo.
Lanjut
5 May
Katika, adalah waktu pada suku Karo, yang terdiri dari: nama-nama hari, Mamis si lima, Paka (bulan), serta Desa si Waluh (Mata Angin). Keempat hal ini sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Karo tradisional, karena setiap aktivitas mereka akan didasarkan pada katika ini.
Pembagian hari (wari) dalam satu bulan (paka) didasarkan pada umur bulan. Apabila umur bulan satu malam, maka hari itu bernama Aditia. Untuk menentukan umur bulan (niktik wari), mereka melakukannya dengan beberapa cara, Seperti:
Lanjut
19 Apr

Hutan Wisata Deleng Lancuk adalah nama sebuah bukit yang berada didalam kawasan Hutan Sibayak II (Sinabung) dengan luas 435 Ha. Termasuk Danau Lau Kawar telah ditunjuk menjadi TWA sesuai dengan SK Menteri Kehutanan No.08/Kpts/II/1989 tanggal 6 Pebruari 1989. secara administratif pemerintahan kawasan hutan wisata ini terletak di Desa Lau Kawar Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Daerah Tingkat II Tanah Karo. Untuk menuju lokasi ini dapat ditempuh dari Medan melalui Kabanjahe ± 1 1/2 jam, selain itu dapat juga ditempuh dari Kota Pematang Siantar melewati pinggiran Danau Toba yang sudah tentu membuat perjalanan ini mengasyikkan.
Lanjut